Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Merosot, Petani Kelapa di Gorontalo Memilih Jual Muda Ketimbang Jadi Kopra

Senin, 04 Januari 2021 | Januari 04, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-01-04T05:11:34Z
Ilustrasi Kelapa Muda


timurpost.id - Merosotnya harga Kopra membuat sejumlah petani kelapa di Provinsi Gorontalo memilih menjual hasil panen mereka masih muda ketimbang harus dijadikan kopra. Menurut mereka, menjual kelapa yang masih mudah lebih menguntungkan mereka.


Selain itu, alasan petani menjual kepala mereka masih muda karena banyak pembeli dan kelapa tersebut langsung dijemput oleh pembeli. Sedangkan kalau dijadikan kopra, petani harus mencari membeli dengan harga yang cocok.


"Saat ini banyak rumah makan dan warung emperan yang menjual es kelapa muda jadi tidak susah menjualnya," kata Risman salah satu petani kepala Gorontalo.


Menurutnya, saat ini kopra kering hanya dibeli dengan harga Rp 10.000 per kilo gram. Sedangkan kalau petani itu menjualnya masih muda, per bijinya mereka dapat Rp 3.000 hingga Rp 5.000 tergantung besarnya kelapa tersebut.


"Panen muda lebih untung, per biji sampai Rp 5.000, mereka jemput sendiri dikebun yang penting akses bisa dilalui mobil," ujarnya kepada Liputan6.com.


Tidak hanya itu, alasan lain mengapa petani menjual kelapa mereka masih masih muda ketimbang dijadikan kopra yakni, selain banyaknya permintaan kelapa muda saat ini, dari sisi penjualan tidak ribet dibanding harus mengelola kopra.


"Kalau dijadikan kopra, banyak yang harus dikerjakan hingga jadi kopra kering sudah basti banyak juga biaya yang keluar. Kalau jual muda, kita panen kapan saja kemudian tinggal hubungi pembeli," tutur Risman.


"Mereka langsung jemput dan pasti rebutan, terutama rumah makan paling banyak membeli," ungkapnya.


Sementara petani lainya, Pakaya Iwan mengaku, harusnya harga kopra yang terus merosot seperti ini bisa mendapat perhatian dari pemerintah. Banyaknya petani pekebun kelapa di Gorontalo menjadi potensi ekspor besar kopra di Gorontalo.


"Kalau harganya sesuai, pasti banyak yang kembali jual dan kelola kopra. Sudah pasti juga serapan tenaga kerja yang lebih besar," ia menandaskan.

×
Berita Terbaru Update